Senin, 13 Juni 2011

sejarah pgri

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Persatuan Guru Republik Indonesia yang kemudian kita kenal dengan sebutan PGRI merupakan satu dari organisasi yang beranggotakan guru yang tidak melihat latar belakang, agama, tingkat pendidikan, satuan pendidikan dan hal lain. Tentunya kenapa PGRI didirikan mempunyai maksud tertentu. Sejarah telah menulis terbentuknya PGRI berawal dari banyaknya berdiri organisasi masyarakat yang berlatar guru, untuk membantu perjuangan Bangsa Indonesia.
Kemudian muncullah sebuah gagasan untuk mempersatukan para guru dalam suatu wadah dengan misi dan visi yang sama, maka ketika proklamasi kemerdekaan diikrarkan rencana itu semakin matang hingga disusunlah kongres PGRI pertama di Surakarta.
Namun ternyata proklamasi kemerdekaan tidak serta merta membuat Indonesia terbebas. Ternyata dari pihak penjajah tidak terima begitu saja. Disinilah kemudian timbul sebuah pertanyaan yakni seperti apa situasi sejarah di awal terbentuknya PGRI, bagaimana pula situasinya dan sepeti apa andil PGRI selang waktu 1945-1958 dalam membantu perjuangan Bangsa Indonesia, atas dasar latar belakang itulah dibuatnya makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah
Dalam makalah ini terdapat beberapa rumusan permasalahan diantaranya:
1. Apa yang melatar belakangi terbentuknya PGRI?
2. Bagaimana hasil kongres pertama PGRI?
3. Apa wujud peranan PGRI setelah dibentuk di masa perjuangan fisik tahun 1945 – 1950?
4. Bagaimana perkembangan organisasi PGRI periode 1950 – 1959
5. Apa hakeket berdirinya PGRI?



1.3 Tujuan Penulisan
Adapun makalah kami ini bertujuan untuk :
1. Agar para mahasiswa dapat lebih mengetahui konsep tentang sejarag PGRI di zaman pasca proklamasi.
2. Agar mahasiswa khususnya penyusun makalah dapat lebih mendalami sehingga bisa membantu mahasiswa lain dalam memahami bab ini.
3. Agar mahasiswa mampu dan siap untuk menjadi pengajar yang professional.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Latar Belakang Terbentuknya PGRI
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 telah merombak kehidupan masyarakat Indonesia dalam berbagai bidang. Tantangan-tantangan yang lahir adalah merebut kekuasaan dari tangan penduduk Jepang dan mempertahankan kemerdekaan dari serangan kolonial Belanda. Bangsa Indonesia bertekad menyusun dan menata kehidupan berpemerintahan dan bernegara selayaknya suatu bangsa yang merdeka. Gelora Revolusi Indonesia, berkobar dalam berbagai segi. Dari sinilah muncul berbagai organisasi salah satunya adalah PGRI.
Ide ini pertama digagas oleh bapak Rh. Koesnan, yang kemudian mengajak beberapa orang untuk membentuk sebuah persatuan guru yang mempersatukan semua guru dengan tidak memandang latar belakang agama,pendidikan, dan asal usul sehingga tidak terjadi perpecahan organisasi guru seperti pada masa kolonial. Setelah diadakan pertemuan akhirnya sepakat dibentuklah organisasi guru dengan nama Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) dengan bapak Koesnan sebagai ketuanya.

PGSI dibawah pimpinan bapak Koesnan dengan beberapa anggota sepakat ingin mengajak semua guru untuk bergabung dengan PGSI dengan mengadakan kongres di Surakarta. Karena pada waktu itu serba sulit maka kongres akan diadakan pada akhir November 1945.

Kongres pertama PGRI ini berlangsung selama dua hari, sabtu dan minggu tanggal 24 dan 25 November 1945 yang bertempat di Sekolah Guru Putri Surakarta.

2.2 Hasil Kongres Pertama PGRI
Setelah menetapkan waktu dan tempat kongres diadakan maka tanggal 24 kongres pertama PGRI dimulai dan diakhiri pada tanggal 25 keesokan harinya. Dalam kongres tersebut diambil beberapa keputusan antara lain:
1. Memutuskan nama organisasi adalah PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) dari usul-usul yang masuk.
2. Memutuskan bahwa Amin Singgih sebagai ketua formatur.
3. Kemudian dalam pasal I Anggarn Dasar pertama ditetapkan bahwa susunan pengurus besar terdiri dari:
Pusat PGRI dipimpin oleh pengurus besar yang terdiri dari:
a. seorag ketua
b. dua orang wakil ketua
c. dua orang penulis
d. dua orang bendahara
e. empat orang anggota
Sedikit-dikitnya seorang dari para pengurus besar harus anggota putri.
4. Azas dan tujuan organisasi, pasal II Anggaran Dasar pertama.
PGRI berazas kedaulatan anggotanya dan bertujuan:
a. Memperkuat berdirinya Republik Indonesia
b. Memperbaiki dan menyempurnakan pendidikan dan pengaaran rakyat Indonesia
c. Memperhatikan kedudukan kaum pendidikan dalam masyarakat
d. Menolong anggota serta keluarga yang menderita kesusahan
5. Rencana perjuangan pasal III
a. menganjurkan kepada anggotanya supaya menyokong dengan nyata semua macam perjuangan untuk menegakkan Republik Indonesia
b. mengharuskan anggotanya:
1. memperhebat pendidikan dan mempercepat pengajaran
2. mengadakan fonds pertolongan

Kemudian diteruskan pada kongres tersebut pokok-pokok pikiran PGRI tentang pendidikan, pengajaran dan sistem persekolahan di Negara Republik Indonesia. Beberapa keputusan yang diambil antara lain:
1. Sekolah Rendah tiga tahun agar dihapuskan dan diganti dengan menjadi enam tahun.
2. Sekolah Menengah menjadi dua, yaitu menengah pertama 3 tahun dan menegah atas 3 tahun.
3. Pemberantasan buta huruf agar digerakkan untuk seluruh rakyat Indonesia.
4. Sekolah Guru untuk Sekolah Rakyat agar didirikan dengan lama belajar empat tahun sesudah Sekolah Rakyat.

Kehadiran para guru dalam kongres tersebut sangatlah memiliki andil besar dalam kemajuan pendidikan di Indonesia, bahkan pada waktu itu masih dalam keadaan yang serba sulit dan peperangan mempertahankan kemerdekaan masih berkecamuk dimana-mana. Pada waktu kongres sedang berlangsung pada tanggal 25 November terjadi pemboman kota Surakarta terutama pada instalasi penting seperti kantor RRI yang jaraknya dekat dengan lokasi kongres. Sehingga penutupan kongres berlangsung cepat. Pada akhirnya terbentuklah organisasi guru di Indonesia pasca kemerdekaan dan setiap tanggal 25 November diperingati sebagai hari lahirnya PGRI.

2.3. Wujud Peranan PGRI Setelah Dibentuk di Masa Perjuangan Fisik Tahun 1945 - 1950

PGRI menjadi salah satu organisasi yang menjadi pelopor dan tampil dimuka dalam menghadapi ancaman dan tantangan pada masa mempertahankan kemerdekaan. Para anggota PGRI diminta turut serta dalam mempertahankan kemerdekaan tanpa melupakan tugas pokoknya dibidang pendidikan serta mendesak pemerintah agar pemberantasan buta huruf segera digalakkan.
Periode tahun 1945 – 1950, perjuangan organisasi dititikberatkan pada perjuangan menegakkan dan menyelamatakan kemerdekaan. Usaha pengisian pendidikan mulai terasa dari pendidikan yamg bernafaskan kolonial menuju kependidikan nasional. Sebagai media organisasi pada tahun 1948 mulai diterbitkan majalah GURU SASANA yang kemudian menjadi SUARA GURU.

Dalam bidang luar negeri pada tahun 1948 mulai diliris hubungan dengan NEA (National Education Asosiation) yang merupakan persatuan guru – guru Amerika,yang antara lain mengundang PGRI melakukan peninjauan pendidikan di USA selama 8 bulan.

Pengakuan kedaulatan Indonesia oleh pemerintah Belanda pada 27-12-1949 memberikan suasana baru dalam perkembangan PGRI. Mulai tahun 1950 PGRI mulai menata lagi organisasinya yang telah berserakan karena Negara – Negara bagian bentukan Belanda yang ingin memecah belah kesatuan Negara Indonesia. Namun terbentuknya organisasi–organisasi di daerah–daerah tersebut secara sadar dibentuk sebagai alat perjuangan bagi para guru yang tetap setia pada Proklamasi 17-08-1945. atas dasar tersebutlah pada tahun 1950 diadakan kongres PGRI secara berurutan yaitu kongres ke IV bulan Februari 1950 di Yogyakarta dan kongres ke V bulan Desember di Bandung.

Dalam kogres ke IV di Yogyakarta PGRI melopori persatuan dan kesatuan bangsa dengan kerelaan dan keikhlasan menyatukan diri dalam satu wadah organisasi guru yaitu PGRI. PGRI kembali mengumandangkan maklumat persatuan pada saat pertentangan dan rasa saling curiga antara golongan republik dan golongan federal sedang memanas. Para guru sepakat menghapus semua rasa curiga antar sesama bangsa Indonesia serta menumpas rasa kedaerahan dan mengajak untuk bersatu dalam wadah PGRI. Maklumat ini mendapat sambutan masyarakat dan mendapat penghargaan dari pemerintah.
Kemudian pada kongres ke V PGRI kembali membuat kejutan dengan mengubah azas dalam anggaran dasarnya. Pada saat itu organisasi–organisasi beranggapan bahwa pancasila adalah dasar Negara sehingga organisasi hanya dapat memilih satu atau dua dari sila Pancasila. Pada kongres tersebut secara berani , para peserta kongres memilih pancasila sebagai azas PGRI ketimbang keadilan sosial. Barangkali PGRI adalah organisasi pertama yang memakai pancasila sebagai azasnya.

2.4 Perkembangan Organisasi PGRI Periode 1950 – 1959

Pada tahun 1950 – 1959 merupaka tahun–tahun perkembangan dan pemekaran PGRI. Hasil dari jerih payah selama ini dapat dirasakan dan dapat dibanggakan hasilnya. Dalam masa ini kongres ke VI PGRI digelar yang bertempat di Malang pada bulan November 1952. pada kongres inilah lahir “Mars PGRI” yang diciptakan oleh Sdr. B. Endro Pranoto.
Meskipun demikian ,hampir saja ada kegoncangan dengan lahirnya organisasi – organisasi :
a. Ikatan Pemilikan Sekolah / Pemilikan Sekolah Kabupaten
b. Ikatan Direktur Sekolah Menengah Pertama Jatim
c. Ikatan Guru CVO (Christelijke Volk Onderwijzers) Jogja
d. PGTI,SB,PPK / SSP
Dan masih banyak lagi yang merasa kepentingannya belum dapat terurus oleh PGRI.

2.5 Hakekat Berdirinya PGRI

Apabila kita meneliti bunyi mukadimah AD/ART dan meneliti kehidupannya dari lahir hingga saat ini, maka hakekat berdirinya PGRI adalah:

1. PGRI lahir karena hikmah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 dan merupakan manifestasi aspirasi guru Indonesia.
2. PGRI hanya commited terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.
3. PGRI berbatang tubuh sebagai suatu organisasi yang berlandaskan Proklamasi, suatu organisasi pemersatu kaum guru yang bersifat unitaristis, independent dan non partai politik dan merupakan suatu sarana usaha kepentingan-kepentingan kaum guru bagi pembangunan / penbinaan profesinya dan pendidikan pada umumnya dan pengabdian terhadap tanah air dan bangsa serta umat manusia secara keseluruhan.
4. PGRI adalah suatu organisasi profesi guru yang lahir, mengemban dan mewariskan nilai-nilai angkatan’45 secara continue setiap organisasi (penerus) Bangsa Indonesia.







BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari makalah ini kami mengambil sebuah kesimpulan bahwa Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) saat ini merupakan haisl dari serangkaian sejarah yang begitu panjang, peran serta kaum guru dalam mewarnai dan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya sebatas pada ranah pendidikan saja, namun telah meluas sampai pada perjuangan yang lain.
PGRI juga telah banyak ikut serta dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia serta kesejahteraan kaumnya, sehingga guru semakin maju dan bisa lebih semangat dalam menjalankan tugasnya untuk meningkatkan kualitas anak bangsa lewat pendidikan.

3.2 Saran
Dari makalah ini kami mnyampaikan saran kepada para guru dan calon guru untuk kembali menata barisan untuk berjuang demi kemajuan pendidikan Indonesia. Guru bukan hanya suatu pekerjaan yang menghasilkan uang saja namun juga tanggung jawab menghasilkan output berupa kuwalitas warga negara yang bisa mempertahankan kemerdekaan.
Maka penting sekali untuk guru meningkatkan profesionalisme dengan terus banyak belajar, agar kualitas guru semakin maju, seperti juga perjuangan para guru dalam mengisi kehidupan bangsa sekitar tahun 1945-1958 yang salah hasilnya bisa dinikmati sampai saat ini. semoga sebagai guru kita benar-benar bisa mengemban tugas kita dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
PGRI dari masa ke masa.jakrta:YPLP PGRI
Sejarah perjuangan dan jati diri PGRI. surabaya:YPLP PGRI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar